Cara-Mengobati-Difteri-Pada-Anak-300x157

Apa itu penyakit difteri?

Difteri adalah sebutan untuk penyakit menular akibat infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyerang bagian selaput lendir (mucus) pada tenggorokan dan hidung. Dalam kondisi tertentu difteri juga bisa menyerang kulit.

Difteri termasuk ke dalam salah satu infeksi berbahaya yang dapat berujung pada kematian jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Apa penyebab penyakit difteri?

Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri yang bernama Corynebacterium diphtheriae. Bakteri difteri berasal dari kelompok bakteri gram positif yang sifatnya sangat mudah menyebar, sehingga risiko difteri akan mewabah pada suatu daerah menjadi lebih tinggi. Ciri khas terjangkitnya seseorang dengan bakteri ini dapat dilihat dari terbentuknya lapisan berwarna abu-abu yang disebut pseudomembran pada tenggorokan dan amandel. Lapisan berwarna abu-abu tersebut merupakan tumpukan sel-sel mati akibat dari racun yang dihasilkan oleh bakteri difteri.

Pada awalnya bakteri difteri akan menginfeksi selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, namun pada tingkatan yang lebih lanjut Corynebacterium diphtheriae akan memproduksi zat racun bernama exotoxin yang tersebar lewat aliran darah dan dapat merusak organ vital seperti ginjal, jantung, jaringan saraf, dan otak.

masa inkubasi bakteri difteri

Masa inkubasi penyakit difteri terjadi antara 2-5 hari.

Masa inkubasi adalah rentang waktu antara bakteri masuk menginfeksi tubuh hingga mulai dirasakan gejala-gejala penyakit. Jadi ketika bakteri difteri masuk ke dalam tubuh, Anda tidak akan merasakan gejala apa pun hingga 2-5 hari ke depan.

Ciri-ciri penyakit difteri

Ciri-ciri dan gejala awal seseorang terkena penyakit difteri adalah:

  1. Mengalami radang tenggorokan.
  2. Muncul lapisan berwarna putih hingga abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  3. Demam menggigil.
  4. Sakit saat menelan.
  5. Suara menjadi serak.
  6. Detak jantung meningkat

Untuk memudahkan Anda mengenali penyakit difteri secara kasat mata, di bawah ini adalah beberapa gambar penyakit difteri yang terjadi pada anak.

difteri

Apa saja gejala lanjutan penyakit difteri?

Tanda-tanda seseorang terkena penyakit difteri yang selanjutnya yakni:

  • Tubuh menjadi lemas.
  • Sesak napas.
  • Mengalami pembengkakan pada limfa atau kelenjar getah bening. Dapat dilihat dari leher yang membengkak.
  • Batuk keras.
  • Mengalami pilek yang berangsur-angsur semakin parah, bahkan disertai dengan mengeluarkan ingus yang bercampur darah.
  • Mengalami gangguan pada penglihatan.
  • Kesulitan bicara.
  • Kerusakan otot jantung.
  • Kerusakan saraf dan otak.

Bakteri difteri memiliki kemampuan untuk memproduksi racun yang dapat terbawa ke aliran darah dan tersebar ke berbagai organ di dalam tubuh. Akan terjadi dampak yang sangat fatal ketika racun ini masuk ke jantung dan sistem saraf. Apabila racun difteri masuk ke jantung, maka ia dapat merusak otot-otot jantung sehingga menyebabkan penderitanya mengalami gagal jantung dan berujung pada kematian.

Apabila racun difteri ini merusak saraf pada sistem pernapasan, maka penderitanya akan mengalami kesulitan bernapas, sesak napas, hingga gagal napas yang akan berujung pada kematian.

Cara mencegah penyakit difteri

Cara mencegah penyakit difteri adalah dengan melakukan imunisasi DPT. Imunisasi DPT merupakan program wajib dari pemerintah Indonesia. Imunisasi ini mencakup pemberian vaksin difteri, pertusis, dan tetanus.

Bisa dikatakan cara paling efektif untuk mencegah penyakit difteri adalah dengan memastikan setiap anak pada setiap daerah mendapatkan imunisasi DPT lengkap.

Di Indonesia, pemberian vaksin DPT dilakukan 5 kali yakni saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun.

Dan untuk memberikan perlindungan tambahan dapat juga diberikan booster dengan vaksin bernama Tdap/Td pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin ini dapat berikan ulang setiap rentang waktu 10 tahun.

Write a comment:

*

Your email address will not be published.

For emergency call        (0274) 881229